dan kaulah (sang penonton)

Posted: November 8, 2009 in Puisi

-sudahkah kau basuh wajahmu?-

malam kian dingin,
dan gelap kian merangkul kesunyian,
mungkin saja angin sedang marah pada daun-daun,
yang memilih diam meniru bebatuan.
perang tlah usai,
api tlah tercabik hujan,
dan bulan tetap berlari menghindar.
“di mana kuntum bunga yang kujaga dengan pedangku?”
kau bertanya pada kunang-kunang yang menghilangkan cahayanya,
hingga dia mendesis marah dan pergi.
namun sang tanah tetaplah bumi yang baik hati,
yang meniupkan tunas dari rahimnya,
hingga kau kembali berpijak di rerumputan,
dan menjemput matahari yang tersipu.
musim semi terlahir dari buah-buahan yang bermain riang di taman.

-dan, sudahkah kau membasuh wajahmu?
karena perang tlah usai,
api tlah tercabik hujan,
dan kau masih terjerat pada tali yang digantungkan di jempol bintang;
tidak terbang, berpijak pun tak mungkin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s