BEETHOVEN- “Memantulkan Cahaya Allah”

Posted: November 1, 2009 in Cerita Motivasi
“Bagiku tak ada hal yang lebih menggembirakan selain bertemu dengan Allah lalu sesudah itu memantulkan cahaya wajah-Nya kepada orang lain”, demikian tulis Beethoven tentang perasaannya setiap kali ia mengurung diri dan menghasilkan sebuah karya musik

Ludwig van Beethoven (1770-1827) memang telah memantulkan cahaya Tuhan dalam bentuk karya musik yang terus abadi hingga kini. Ia telah mengarang ratusan simfoni, kuartet, sonata, variasi, fidelio, kantata dan banyak lagu gereja serta lagu umum.

Ia mulai belajar piano pada usia empat tahun dari ayahnya yang keras dan kejam. Pada usia duabelas tahun ia sudah menjadi organis gereja di Koln dan mengarang karyanya yang pertama berupa tiga sonata untuk piano forte.

Begitulah jalan hidup Beethoven selanjutnya. Sebagai seorang yang tetap membujang seumur hidup, setiap hari ia mengarang karya musik. Tiap kali mencari ilham ia mengurung dirinya sampai berhari-hari. Santapannya sering kali menjadi basi karena ia lupa makan. Lalu setiap kali ia berhasil menyelesaikan sebuah karangan, ia keluar ruangan dengan rasa girang. Ia merasa telah melihat wajah Tuhan. Ia merasa telah melihat cahaya ilahi, dan ia ingin memantulkan cahaya itu kepada orang lain, melalui karya musiknya. Ia merasa seolah-olah wajahnya bercahaya seperti Musa yang wajahnya sampai harus diselubungi, ketika “kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan”. (Keluaran 34:29-35).

Spiritualitas Beethoven berbuah dalam bentuk karya musik. Tulisnya, “Tujuanku adalah menghadirkan kemuliaan Tuhan dan menggetarkan kalbu para pemusik yang melantunkan lagu-lagu ini serta para pendengarnya.”

Tetapi jangan mengira bahwa ilham ilahi membebaskan, Beethoven dari jerih payah dan derita. Dulu, ketika belajar piano sebagai anak balita, ia sering berlatih piano berjam-jam lamanya sambil menangis; sebab tiap kali ia membuat kesalahan ia dipukul oleh ayahnya. Kemudian hari ketika sudah dewasa, Beethoven bahkan duduk di depan piano sampai berhari-hari untuk menyelesaikan karangannya. Bakat karunia Tuhan hanya berkembang jika disertai kerja keras orang yang bersangkutan. Tuhan mengembangkan orang yang mau mengembangkan dirinya sendiri.

Sepanjang hidupnya Beethoven, juga menderita akibat rupa-rupa penyakit. Yang paling menyedihkan adalah gangguan pendengarannya. Telinga adalah anggota tubuh yang paling dipakai oleh Beethoven dalam karyanya. Akibatnya, telinganya cepat rusak. Pada usia 28 tahun, pendengarannya mulai berkurang. Kian lama kian parah. Ia memimpin konser padahal ia sendiri tidak bisa mendengarnya. Pada usia 44 tahun, ia menjadi benar-benar tuli. Sejak itu, ia tidak tampil lagi di panggung. Ia berkarya di rumah. Selain itu, ia juga menderita beberapa penyakit lain. Ketika menyanyikan lagu “Kami Puji Dengan Riang”, dari Kidung Jemaat no.3, tidak banyak orang tahu bahwa lagu itu diciptakan oleh Beethoven yang sudah tuli total dan sakit-sakitan, pada usia 54 tahun.

Beethoven juga menderita kesulitan keuangan. Memang ia mengarang banyak karya musik, namun ia miskin. Ia sering menggadai barang untuk menyambung hidup. Ia menulis, “Meskipun karanganku banyak diterbitkan, namun aku tidak bisa hidup dari karanganku.” Pernah ia diminta oleh raja untuk mengarang namun ia tidak dibayar. Lalu ia menulis surat kepada Goethe, “Aku mohon bantuan Anda untuk menyebut karanganku kalau bertemu baginda, supaya beliau ingat untuk membayarku. Pikiranku memang melayang tinggi pada keagungan ilahi, namun aku juga terpaksa memikirkan ongkos hidupku. Anda tahu bahwa aku mengarang bukan untuk mencari uang, namun aku perlu biaya untuk berobat.”
Dunia baru mengetahui kepahitan hidup Beethoven setelah surat-suratnya dipublikasikan dalam buku Beethoven – Letters, Journals & Conversations; suntingan Michael Hamburger dan biografi Beethoven karangan Maynard Solomon.

Masa lanjut usia Beethoven sepi. Ia memang lebih suka menyendiri untuk mengarang dari pada bergaul dengan orang-orang. Pada usia 57 tahun, kesehatan Beethoven sangat menurun, setelah ia keluar masuk rumah sakit untuk pembedahan. Ia terkapar lemah di ranjang ketika menerima sakramen terakhir. Pada petang itu, halilintar menyambar-nyambar dan menggelegar. Semua orang di ruangan itu sebentar-sebentar terkejut dan menutup telinga karena guntur menggeledek. Tetapi, Beethoven yang sudah tuli itu sama sekali tidak terganggu. Ia tenang. Ia tampak tersenyum. Ia tidak mendengarkan apa-apa. Atau, mungkin ia justru sedang mendengar sesuatu yang lain. Mungkin ia sedang mendengarkan paduan suara malaikat yang menyanyikan sebuah lagu ciptaannya untuk menyambut dia di pintu Surga.

Catatan :
1. Kita belajar dari keuletan dan talenta yang diberikan ALLAH kepada Beethoven.
2. Kita harus berhati-hati dan mengkritik sikap ayah Beethoven yang kejam, karena itu sebagai pelanggaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s