Socrates

Posted: Oktober 31, 2009 in Tokoh

Kehidupan Socrates.

Socrates lahir di Athena pada tahun 469 s.M. Ia segera mengembangkan fikiran di bidang filsafat seperti halnya Pythagoras sebelumnya. Sayangnya ia tidak ada meninggalkan tulisan langsung yang berisi pandangannya tentang keyakinannya namun kita memiliki catatan kehidupannya sebagaimana direkam oleh Plato dan juga ahli sejarah bangsa Yunani yang bernama Xenophon dari Athena. Dari catatan mereka itulah kita bisa merangkai beberapa informasi tentang kehidupan, keyakinan dan karakter dirinya.

Socrates

Di masa mudanya Socrates mendapat pendidikan normal di bidang sains, musik dan gimnastik. Semua ini merupakan subyek pelajaran yang berlaku umum dalam periode Yunani klasik. Ia dikenal juga sebagai pematung dan katanya beberapa karyanya pernah ditampilkan di salah satu tempat di jalan menuju ke Acropolis di Athena.

Tidak lama semua itu ditinggalkan ketika ia mulai menerima serangkaian mimpi, wahyu dan tanda-tanda yang menjurus kepada penugasannya sebagai utusan Ilahi bagi perbaikan bangsa Athena. Ia mencoba menunjukkan kepada mereka kesia-siaan keyakinan dan gaya hidup mereka dan mengajak mereka pada gaya hidup yang lebih intelektual dan bermoral. Sepanjang sisa kehidupannya ia dibimbing oleh ‘suara surgawi’ dan menggambarkan hubungannya dengan Tuhan secara demikian pribadi yang dikenali oleh orang-orang beragama yang hidup di zaman modern. Socrates meyakini ‘suara’ tersebut dan tidak pernah menentangnya karena beranggapan bahwa suara tersebut selalu menunjukkan kepadanya segala kebenaran dan kebaikan.

Socrates memiliki gaya mengajar yang unik yaitu dengan cara bertanya tentang suatu subyek dari berbagai sudut pendekatan, dan dari sana baru menarik kesimpulan. Gaya ini juga digunakan oleh Kong Hu Cu di antara bangsa Cina. Salah satu contoh menarik adalah percakapan Socrates dengan Laches, pensiunan jendral, mengenai makna atau pengertian keberanian:

Socrates: Aku ingin meminta pendapat anda tentang keberanian, tidak saja pada tingkatan infantri tetapi juga kavaleri dan pada semua bentuk pertempuran. Bukan hanya keberanian bertempur tetapi juga keberanian berlayar di laut, menghadapi penyakit dan kemiskinan serta masalah kemasyarakatan. Disamping itu juga keberanian menghadapi nafsu dan kenikmatan yang sama sulitnya dihadapi, baik dengan cara maju atau pun mundur, karena bukankah memang ada manusia yang dikatakan berani dalam segala bidang ini, wahai Laches?

Laches: Ya, benar.

Socrates: Jadi semua itu bisa dianggap sebagai keberanian, hanya saja ada manusia yang mengemukakannya dalam kenikmatan, ada yang dalam kepedihan, ada yang dengan nafsu, dan juga ada yang dalam mara bahaya. Begitu pula dengan adanya yang memperlihatkan kepengecutan dalam keadaan-keadaan yang sama.

Laches: Benar adanya.

Socrates: Sekarang, yang ingin aku ketahui ialah apa yang dimaksud dengan kedua sifat itu. Jadi tolong beritahukan kepadaku, apa yang menjadi ciri-ciri umum keberanian yang terdapat pada semuanya? Pahamkah anda apa yang aku maksud?

Dalam diskusi-diskusinya Socrates selalu mengajak orang untuk mencari pengertian yang lebih dalam serta mencari tahu mengapa mereka mengerjakannya dan apa yang mereka katakan. Ia selalu menggugah anak-anak muda untuk memikirkan tingkah laku dan ucapan mereka sendiri dan tidak sepenuh-nya mengandalkan pada pemahaman menurut Socrates saja.

Ia sebenarnya memiliki derajat dalam masyarakat meski ia menghindari politik karena dianggap akan mengganggu missi keruhaniannya. Dalam jabatan yang dipegangnya ia selalu bersikap berani dan terkadang berdiri sendiri mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai tindakan yang benar. Contohnya antara lain saat ia menentang sendirian proposal terhadap para pemenang Arginusae pada tahun 406 s.M. Dua tahun kemudian ia menunjukkan pembangkangan terhadap Tirani Tigapuluh selama masa pemerintahan teror mereka.

Dakwah Socrates yang dilakukan secara ekstensif serta sikapnya yang berprinsip jadinya dianggap mengganggu oleh negara Yunani yang kemudian menangkapnya pada tahun 399 s.M. Yang menjadi pendakwanya adalah Meletus (seorang penyair), Anytus (politisi) dan Lycon (orator). Tuduhannya adalah:

‘Socrates telah bersalah karena tidak mengakui dewa-dewa kota, mengakui adanya sembahan lain dan mencoba memperkenalkan kekuasaan lain. Ia juga telah merusak generasi muda.’ (Freeman, h.267)

Menurut penuturan Plato, Socrates menolak memberikan argumentasi rhetorikal untuk membela dirinya dan menggunakan cara yang lebih santun. Menurut apologi Plato, ia mengawali pembelaan dirinya dengan kata-kata berikut:

‘Kalau begitu aku harus mengajukan pembelaan diri dan mencoba menjernihkan fitnah yang sudah berlangsung lama atas diriku. . . Dan dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan, sesuai dengan kepatuhan kepada hukum, aku sekarang akan mengajukan pembelaan diriku.’ (Apology, 19a)

Sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan tetapi ia menolak dan lebih mempertahankan pendapatnya. Ia sepertinya mengabaikan kedatangan maut dan bahkan menyatakan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat yang lebih baik. Ia kemudian divonis mati dan setelah beberapa hari di penjara, ia dipaksa meminum racun yang membawa kematiannya.

Socrates harus minum racun untuk membela kebenaran pendapatnya.

Karakter Socrates

Plato dalam karyanya Symposium mencoba merekam pemikiran-pemikiran Alcibiades, seorang politisi kaya di Athena, dan reaksi yang bersangkutan saat mendengar dakwah Socrates sebagai berikut:

‘Ketika aku mendengarkan dirinya, hatiku berdegup keras . . . sepertinya kalut . . . kesurupan . . . dan air mata meleleh mendengar apa yang dikatakannya. Aku bisa melihat bahwa orang-orang lain juga merasakan dampak yang sama. Aku pernah mendengar Pericles bicara. Aku pernah mendengar orator-orator yang baik lainnya tetapi mereka tidak ada yang menimbulkan efek seperti halnya ini. Mendengar mereka itu aku tidak merasa jiwaku kalut atau merasa bahwa aku ini hanyalah debu belaka.’ (Freeman, h.264)

Alcibiades disini sedang menceritakan interaksi dirinya dengan seseorang yang unik, bukan seorang politisi, bukan seorang egoist, tetapi seseorang yang memiliki keyakinan dan indra yang kuat tentang baik dan buruk, salah dan benar, dan ia mampu menggugah pendengarnya sebagaimana yang hanya bisa dilakukan oleh seorang nabi Tuhan. Bahkan Plato menyebut Socrates sebagai ‘orang yang paling adil di zamannya.’

Seorang sahabat lain menguraikan tentang dirinya sebagai berikut:

‘Sedemikian saleh orangnya sehingga ia tidak akan melakukan sesuatu sebelum berkonsultasi dengan dewanya. Sedemikian bersifat adil dimana ia tidak pernah menyakiti siapa pun, malah ia menjadi penolong bagi para kawannya. Sedemikian sederhana sehingga ia tidak lebih menyukai kenikmatan dibanding kebenaran, sedemikian bijaknya sehingga tidak pernah salah dalam menilai apa yang baik dan buruk. Singkat kata, seorang terbaik dan paling berbahagia dari antara manusia.’

Sifat-sifat demikian terdapat pada seorang yang memang saleh yang selalu memikirkan segala tindakan dan perkataannya, dimana ia selalu berhati-hati dalam melangkah agar tidak menimbulkan kemurkaan Tuhan dan ‘suara Tuhan’ yang telah biasa didengarnya. Ahli sejarah Xenophon mencatat tentang dirinya: ‘Tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa ia pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak pantas.’

Faset lain yang menarik dari karakter Socrates adalah kemampuannya membahas ide-ide dan keyakinannya dengan segala lapisan masyarakat dan dengan segala macam profesi.

Bahkan dalam kehidupan politik, bangsa Athena memilih Archon mereka serta bendaharawan Khazanah dari lingkungan kelas atas dan ke 400 anggota Dewan dipilih dari kedua kelas yang di atas. Kelas yang di bawah diizinkan mengikuti jalannya dewan dan peradilan. Namun bagi Socrates, Tuhan-nya adalah pencipta umat manusia dimana pesan-pesan dan upaya perbaikan diterapkan pada semua manusia Athena, lelaki atau wanita, karena itu ia santai saja berbicara dengan siapa pun apakah penyair, ahli sejarah dan tentara di satu sisi atau juga dengan pembuat sepatu atau tukang kayu (Ahmad, h.81). Hal ini juga menegaskan adanya sifat-sifat seperti yang terdapat pada diri nabi-nabi seperti Isa.a.s., Musa.a.s. dan Buddha.

Keyakinan Socrates.

Pada masa itu kalangan ilmiah Athena sedang giat-giatnya mempelajari sains dan alam luar, namun ia malah mulai mengarahkannya kepada tentang manusia, khususnya tentang pengaruh dari tingkah laku dan perbuatan. Ia berusaha menjelaskan kepada para pengikutnya pemahaman tentang makna kehidupan yang baik dan saleh. Socrates berusaha mengajarkan tentang makna kehidupan dan kematian, dimana ia terkejut atas reaksi mereka atas perkataannya:

‘Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang dinamakan maut, bisa jadi maut merupakan rahmat yang terbesar bagi umat manusia, namun manusia takut kepadanya seperti ketakutan kepada suatu hal yang amat buruk.’

Ia juga menentang konsep kuno bangsa Yunani tentang jiwa atau psyche. Kepercayaan kuno menyatakan bahwa jiwa atau ruh adalah cerminan dari orang yang mati yang bergerak dari dunia kehidupan dan kematian. Socrates menyatakan bahwa ruh adalah suatu yang berbeda dengan tubuh jasmani. Ia mengemukakan kalau ruh itu mempunyai kecenderungan alamiah kepada kebaikan, suatu konsep yang kemudian ditentang oleh Aristoteles (Freeman, h. 281)

Yang paling menarik ialah Socrates memiliki pandangan pribadi tentang Tuhan yang mengajak kita untuk berfikir bahwa ia adalah seorang penerima ru’ya dan wahyu, apalagi jika dikaitkan dengan dampaknya yang terasa seketika pada masyarakat Athena.

Ia berhasil mempertahankan keyakinannya pada Wujud Maha Kuasa dan Maha Pencipta alam semesta terhadap pandangan poytheisme di sekitarnya dengan menggunakan akidah-akidah hukum alam. Ia menentang pluralitas yang berkembang dalam agama bangsa Yunani sebagaimana yang tercermin dalam mithologi mereka. Ia menganjurkan bangsa Athena agar berdoa bagi kebajikan dan bukan untuk keuntungan material.

Pasca Socrates

Banyak sekali aliran pemikiran yang berkembang setelah Socrates. Bahwa kita banyak mengetahui tentang diri Socrates adalah melalui tulisan-tulisan pengagum dirinya yaitu Plato. Plato demikian tergugah oleh nasib Socrates sehingga ia menulis tentang kehidupan dan pengadilannya dalam buku-bukunya Dialogues, Apology dan Symposium. Ia pun berkeyakinan bahwa alam semesta diatur oleh kekuatan yang tidak kasat mata.

Pada saat yang sama terdapat banyak pengikut yang mendekat kepada Socrates sepanjang hidupnya yang menurut Xenophon adalah untuk:

‘menjadi orang yang baik dan lurus, mampu melaksanakan kewajiban terhadap rumah dan rumahtangganya, terhadap kerabat dan teman, terhadap kota dan penduduknya.’

Sebagian dari pengikutnya itu menjadi demikian dekat (dalam agama Kristen mereka tentunya disebut sebagai apostel) sehingga ketika ia meninggal maka mereka merasa berkewajiban meneruskan pesan-pesan yang dibawanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s