Belajar Menulis dari Seorang yang Membenci Menulis

Posted: Oktober 31, 2009 in Inspirasi, Motivasi, Pembelajaran

Oleh : RahmatChe

Cicero pernah mengatakan tentang Plato ‘Palto scribens est mortuus’ (Palto meninggal ketika sedang menulis) Cicero benar, sebab ketika menulis Nomoi (undang-undang) dan bahkan belum rampung Plato menghembuskan napasnya yang terakhir. Ketika itu usianya 80 tahun.

Dalam sejarah filsafat barat, Plato merupakan seorang filsuf besar. Karya-karyanya mengandung gaya sastra bermutu tinggi. Namun demikian, dari hatinya yang paling dalam sebenarnya Plato ‘membenci’ menulis. Menurutnya pena dan tinta membekukan pemikiran sejati dalam huruf-huruf yang membisu. Kalau toh pemikiran itu perlu dituliskan, maka bentuk yang paling cocok adalah bentuk percakapan atau dialog-dialog.

Ada dua alasan utama mengapa Palto memilih menuangkan gagasannya dalam bentuk percakapan atau dialog.

Pertama, sebagai ungkapan rasa takjub yang mendalam kepada gurunya Sokrates (470-399 SM). Sebab Sokrates dalam hidupnya tidak pernah menghasilkan satu tulisanpun. Gagasan-gagasannya dituangkan dalam percakapan sehari-hari. Maka tidaklah heran jika Palto mengadopsi gaya percakapan tersebut ke dalam tulisan-tulisannya.

Kedua, Plato banyak memakai mite-mite (dan mite yang terkenal adalah mite tentang gua) untuk menyatakan ajarannya yang abstrak dan di duniawi (berkaitan dengan dunia idea-idea). Jadi ciri dialog atau gaya percakapan menjadi penting dalam menuangkan gagasannya. Selain agar mudah untuk dipahami, gaya yang demikian itu membuat warna tulisan tidak tampak kering.

Lantaran dua alasan di atas karya-karya Plato tidak dapat disebut sebagai karya ilmiah yang sistematis dan berurutan logis, melainkan sebagai karya sastra. Namun demikian, sudah cukup menggugah kita untuk menuangkan gagasan dan buah pikiran dalam bentuk tulisan yang berbeda dari biasanya yakni bercakap-cakap atau berdialog. Sebab menuangkan gagasan atau buah pikiran tidak harus bersifat sistematis dan berurutan.

Toh Plato tetaplah seorang Plato. Gaya tulisannya tidak mengurangi kecerdasannya sebagai seorang filsuf besar yang tetap dikenang dan dipelajari sepanjang zaman. Dan bahkan menurut Whithead, filsuf Amerika, hanya Palto-lah yang sesungguhnya disebut sebagai filsuf karena sejarah filsafat Barat dengan filsuf-filsufnya yang terkenal tidak lebih hanya sebagai ‘cacatan kaki pada Plato’ (dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s