Resensi Film : La Vita e Bela (Life is Beautiful)

Posted: Oktober 27, 2009 in semua tentang

oleh RahmatChe

Life is Beautiful

Life is Beautiful Ternyata hati, perasaan, dan cinta itu ada, setidaknya ditahun 1939, tepatnya di kota Arezzo, Italia. Cinta             diuji keberadaannya oleh sebuah jaman dimana rasialisme tengah berkembang, antara bangsa Jerman – Aria       – dan bangsa Yahudi.

Si tua Marx sepertinya semakin keliru. Cinta dan perkawinan bukan hanya sekedar bekal sebagai produsen           tenaga kerja. Cinta tidak hanya itu. Ia, seperti kata Kahlil Gibran, adalah sebuah racun manis yang diminum        oleh roh-roh yang kehausan, untuk kemudian mabuk sesaat, diam sebentar, dan mati selamanya.

Disini Guildo sebagai pemeran utama memiliki multi kepribadian. Ia bisa disebut seorang periang, licik, menyebalkan,  menyedihkan, pintar, dan kocak. Pada permulaan, Guildo selalu didampingi oleh sahabatnya yang bernama Ferruccio. Mereka berdua bekerja sebagai pelayan restoran milik paman Guildo. Mereka selalu bergembira dengan segala kekocakan Guildo.

Pada suatu saat, ketika ia sedang dikejar-kejar oleh seseorang akibat kekonyolannya, secara tidak sengaja ia menabrak seorang gadis yang ternyata pernah dikenalnya. Disitu Guildo mulai terpikat hatinya. Dan dikemudian hari, orang yang mengejarnya itu diketahui bernama Rudolfo, calon suami Dora, wanita yang ingin dikencani Guildo. Tapi ternyata, Dora tidak terlalu respect kepada Rudolfo yang selalu bergaya formil. Ia membutuhkan orang yang bisa membuatnya rileks.

lib3.jpgPribadi yang cair, seperti yang didambanya, ditemukannya pada diri Guildo. Mereka pela-pelan menjalin kisah. Hingga suatu hari, ketika acara resepsi pernikahan Dora dengan Rudolfo sedang berlangsung, Dora dan Guildo sepakat untuk nekat meninggalkan ruangan. Rudolfo kurang cepat bertindak. Karena, pertama ia menyangka ini adalah bagian dari hiburan, dan kedua ia merasa pernah bertemu dengan Guildo tapi lupa dimana. Dan ketika ia tersadar, Guildo sudah pergi bersama Dora, meninggalkannya.

Setelah itu mereka berdua pun melangsungkan pernikahan dan memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Joshua. Ketika pernikahan antara Guildo dengan Dora terjadi, peran Ferruccio, sahabat Guildo, menghilang. Ketika sudah menikah, Guildo beralih profesi. Ia mulai membuka usaha toko buku yang dibantu Joshua. Keharmonisan sebuah keluarga hanya sebentar dirasakan oleh keluarga Guildo, karena dari sinilah petaka rasisme mulai menghampiri. Tentara Jerman menginvasi Italia.

Guildo dan Joshua dibawa oleh tentara Jerman untuk dipekerjakan secara paksa. Dora tidak mengetahuinya sampai ia melihat isi toko berantakan. Buru-buru ia mendatangi stasiun kereta yang akan membawa orang-orang Yahudi, termasuk didalamnya suaminya dan anaknya. Dora yang bukan Yahudi meminta kepada seorang sipir Jerman untuk tidak membawa serta Guildo dan Joshua. Namun ditolak, sehingga memaksa Dora nekat untuk ikut berangkat di dalam kereta tersebut. Ini dilakukan demi cintanya kepada keluarganya. Ia sudah tidak berpikir panjang lagi. Tetapi walaupun Dora ikut serta, mereka tidak pernah bertemu muka secara langsung. Tentara Jerman membagi rombongan secara jenis kelamin.

lib1.jpgDi sepanjang perjalanan dan ditempat tujuan, Guildo selalu berusaha membohongi Joshua tentang maksud sebenarnya dari perjalanan ini. Ia membohongi dengan gayanya yang khas yaitu selalu berusaha merasionalkan alasan dengan menggunakan lelucon-lelucon. Disinilah terlihat cinta seorang bapak kepada anaknya begitu menonjol. Walaupun badannya sangatlah lelah akibat kerja paksa, namun Guildo tidak pernah menunjukkannya kepada Joshua.

Suatu ketika keisengan dan kenekatan Guildo muncul ketika ia melihat sebuah ruangan yang berisi mikropon tanpa penjaga. Ia yang membawa serta Joshua langsung masuk ke ruangan tersebut dan berbicara untuk mengabarkan perasaannya kepada Dora. Tentu ini dilakukan dalam bahasa Italia, yang tidak dimengerti oleh para tentara Jerman. Mendengar ini Dora sangat bingung dan terharu, sehingga tidak tahu harus berbuat apa-apa.

Ketika Guildo mendengar anak-anak kecil Yahudi akan dibunuh, ia berusaha menyembunyikan Joshua dalam sebuah kotak. Dan untuk lebih amannya, ia berusaha mencari perhatian para tentara Jerman tersebut. Namun malang baginya. Ia tertangkap ketika sedang mengendap-ngendap. Ketika ia dihampiri oleh seorang tentara yang sedang mengarahkan senjata kepadanya, tentara tersebut ditegur oleh atasanya dalam bahasa Jerman yang tidak dimengerti oleh Guildo. Rupanya maksud atasan tersebut adalah jangan membunuh di tempat keramaian. Maka dibawalah Guildo ke sebuah tempat sepi.

Ketika digiring, ia melihat anaknya sedang mengintip lewat lobang kecil di kotak persembunyian. Ia yang tidak mengerti ucapan atasan tentara Jerman yang tengah membawanya, masih sempat menunjukkan kesan kepada anaknya bahwa dia tidak apa-apa lewat tingkahnya yang dibuat sedemikian lucu. Namun ketika sampai disebuah tempat sepi, nyawa Guildo pun melayang.

Joshua, sesuai pesan ayahnya, baru keluar setelah keadaan sepi. Ia melihat sekeliling dan menemukan kedatangan tentara sekutu yang berhasil mengusir tentara Jerman. Oleh tentara sekutu tersebut, ia dipertemukan dengan ibunya, Dora. Mereka berdua belum mengetahui keberadaan Guildo yang telah meninggal ditembak.

Sebuah kisah nyata yang diangkat menjadi film ini sangat menyentuh perasaan manusia. Walaupun Dora bukan seorang Yahudi, tetapi ia mau mengikuti kerja paksa tersebut, dan Guildo rela mati demi keluarga yang sangat dicintainya. Disini cinta memang membutuhkan pengorbanan. Dan jika cinta tidak memerlukan pengorbanan, dalam situasi seperti diatas, itu hanyalah sebuah nafsu, hanya sebuah nafsu yang dikendalikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s